Semalam, saat semua gelap.
Tak ada arus listrik.
Mungkin si empunya sedang murka.
Atau mungkin sedang berdaya humor tinggi.
Sehingga dengan seenaknya saja memutuskan aliran listrik.
Tanpa aba.
Aku yang teronggok dalam gelap.
Tersudut dalam gemericik hujan.
Mencoba merangkai huruf.
Bermain kata.
Mengaduk rasa.
Lalu memuntahkannya.
Saat itu, kenapa semua seolah kontra padaku?
Cermin mengkhianatiku.
Dipan dan lemari sepakat menjauhiku.
Buku-buku curiga akan lirikanku.
Lampu sudah lama meninggalkanku.
Tembok dan pintu berbisik membicarakanku.
Koloni katak enggan bersenandung untukku.
Aku bingung dengan mereka.
Atau aku bingung dengan diriku sendiri?
Entahlah.
Masa membawa langkahku.
Mendekati titik cahaya yang berpendar.
Di ruang belakang cahaya itu berasal.
Itu hanya cahaya lilin, kawan.
Aku dan lilin.
Kami saling pandang, mesra.
Layaknya sepasang kekasih yang bercerita akan keluh kesah.
Kulihat sosok yang tak asing.
Dia hanya titik-titik gelap.
Yang menyatu, berpegangan erat.
Membentuk sosok manusia.
Ya, itu hanya bayanganku, kawan.
Kini, diantara aku dan lilin.
Ada bayanganku.
"Sebuah cerita cinta segitiga kah?"
Oh, tentu bukan, kawan.
Kami tak ada rasa lebih antara satu dengan yang lainnya.
Kami hanya sahabat.
Sahabat imajinasi.
Bayanganku.
Kulihat engkau baik-baik saja.
Tak ada hal buruk menimpamu.
Dari atas langit, maupun dari bawah bumi.
Lambat laun, ku tetap memerhatikanmu yang diam.
Mungkin sama, kau juga memerhatikanku yang sedang memerhatikanmu.
Tak ada yang berubah dari wujudmu, pikirku.
Hanya anggukan kepalaku.
Gelengan kepalaku.
Lambaian tanganku.
Dan beberapa gerak besar lain.
Yang dapat merubah wujudmu.
Tapi kau tetap sama.
Kau tetap dingin, tanpa ekspresi.
Bagai prasasti yang tertanam amat sangat dalam.
Ketika aku tersenyum.
Tertawa.
Cemberut.
Ataupun menangis.
Kau tetap terlihat baik akan keadaanmu.
Aku, layaknya bayanganku.
Mungkin itu aku di mata kalian, kawan.
Ya, bayangan yang baik-baik saja.
Bayangan yang dingin, tanpa ekspresi itu.
05:55
24/02/11
Label: Puisi
Aku yang diam, membeku.
Walau hangat mentari merayuku.
Aku yang sendiri, terasing.
Walau hanya sejengkal jarakku akan kebahagiaan.
Mentari.
Memesona nian sinarmu, kala merayuku.
Tapi tak jua melelehkan gunung es-ku.
Kebahagiaan.
Kau memang menarik, amat sangat.
Tapi ku masih merasa asing akan kau, tuk saat ini.
Ajak aku tersenyum, kawan!
Aku yang bisu, terbungkam.
Saat dunia mencercaku akan pertanyaan hidup.
Aku yang menangis, pilu.
Saat sebuah komedi teronggok di hadapanku.
Pertanyaan hidup.
Memang kau ancam aku dengan beribu derita.
Tapi bisuku tak luluh olehmu.
Komedi.
Hal terlucu dari dunia yang lucu.
Kau tetap buatku menangis.
Ajak aku tersenyum, kawan!
Aku yang kalut., murka.
Saat kasih terjunjung tinggi di pelataran.
Aku yang tak acuh, bergeming.
Saat hati-hati tersentuh duriku.
Kasih.
Kau memang ada dalam jiwaku.
Tapi belum kuasai jiwaku.
Duriku.
Memang tak tajam, sungguh.
Tapi cukup untuk sekedar menyakiti.
Bodoh!
Untuk apa ku tuliskan ini semua?
Untuk meminta belas kasih?
Meminta pujian?
Atau bahkan meminta cemoohan?
Entahlah.
Aku.
Mungkin itu bukan aku.
Ya, semua itu bukan aku.
Berharap kata yang tertulis tadi.
Bukan tentangku.
Karena aku.
Masih bisa tertawa kecil kala ini.
Kala sayup semilir angin berhembus.
Kala orkestra katak berharmoni riang.
Kala huruf-huruf berpantomim lucu.
Mereka berkonspirasi.
Menculikku, lalu berkutat dalam dunia mereka.
Dunia imajinasi.
Kawan, masihkah kau bersedia tersenyum bersamaku?
22:22
21/02/2011
Label: Puisi
Lihatlah aku, Jiwaku.
Aku telah menikmati hidupku dengan memperhatikan ajaran-ajaranmu.
Pikirkan bagaimana Aku menderita!
Aku telah merasa lelah mengikutimu.
Hatiku mengagungkan diatas tahta,
namun sekarang terpuruk dalam perbudakan.
Kesabaranku adalah teman,
namun kini berperang melawanku.
Masa mudaku adalah harapan,
namun kini menegur kelalaianku.
Pesisir yang kuat adalah cintaku.
Dan aku adalah kekasihnya.
Kami akhirnya bersatu dalam cinta.
Lalu bulan mengambilku darinya.
Aku pergi ke bulan dengan enggan.
Dan dengan sedikit perpisahan.
Aku dengan cepat mencuri dari belakang horizontal.
Untuk melemparkan buih perakku di atas pasir emas.
Dan kami bercampur dalam kecerdasan.
Aku memuaskan dahaganya dan menyelami hatinya.
Ia melembutkan suaraku dan sifatku.
Dalam fajar aku mengumandangkan peraturan cinta dalam telinganya
dan ia memelukku dengan erat.
Label: Puisi


